Showing posts with label Pantai. Show all posts

Berwisata di Pulau Harapan, Laut Birunya Jakarta

Gue pernah ke pulau-pulau yang banyak dihuni nelayan di gugusan kepulauan Seribu seperti Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pulau Tidung dan Pulau Pramuka cuma Pulau Harapan yang karang-karangnya masih bagus. Pilihan pulau-pulau yang bisa disinggahi di sekitar Pulau Harapan juga banyak. Sebut saja Pulau Perak, Pulau Dolphin, Pulau Melinjo, Resort Pulau Putri, Pulau kelapa, dsb. Untuk berwisata pulau ini lebih hidup, sob!


Terhitung sudah 10 kali lebih gue mengunjungi pulau ini sejak tahun 2014 baik itu nginep di homestay ataupun nenda di sekitar pulau. Dari yang gak tahu apa-apa, sampai tau spot-spot snorkeling sepi pengunjung. Yang dulu kena harga tembak melulu, sekarang dikasih harga damai karena keseringan datang berkunjung.

Dan gak cuma itu, kadang masih dikasih diskonan. Yah, walaupun gue tetep kasih lebih karena gak enakan hati sob! Bukan tentang menekan harga agar hemat, tapi kehidupan mereka disini lebih susah daripada kehidupan kita di daratan yang apa-apa serba gampang dan sejahtera..



Untuk menuju ke Pulau Harapan, wisatawan memulai perjalanannya dari Pelabuhan rakyat Kaliadem. Di pelabuhan ini bersandar puluhan kapal dengan berbagai tujuan pulau di gugusan Kepuauan Seribu. Harga tiketnya beragam tergantung jarak. Paling mahal yaa Pulau Harapan / Kelapa dengan biaya Rp60.000,- / orang sekali jalan. Kapal-kapal ini kompak berangkat sekitar pukul 8 pagi.

CARA MENUJU PELABUHAN KALIADEM / MUARA ANGKE

Angkutan Umum :
1. Naik kendaraan arah Grogol, turun di depan perempatan Citraland lalu naik angkot KWK warna merah dengan nomor B.01 jurusan Grogol - Muara Angke

2. Naik kendaraan / KA ke Stasiun Kota, lalu naik angkot warna merah dengan nomor B.02 jurusan Jakarta Kota - Muara Angke

Ojek Online :
1. Gojek - Search 'Dermaga Kaliadem Muara Karang'
2. Grabbike/GrabCar - Search 'Pelabuhan kali Adem'

Jika kalian datang dengan angkutan umum akan banyak kang odong-odong menawarkan jasanya dengan meneriakkan 'Masuknya banjir!'. Penasaran, gue pernah coba jalan kaki dari depan gerbang, melewati pasar, rusun dan masuk ke pelabuhan. Hasilnya, berdasarkan panatuan gue banjir hanya semata kaki. Pastikan kalian datang sebelum jam 7 pagi. Karena diatas itu selain antrian tiket sudah mengular, akan dapat posisi tempat yang gak enak di atas kapal selama 3 jam perjalanan.

Tidak terlalu nyaman naik kapal seperti ini untuk melakukan perjalanan selama 3 jam. Tapi dari situ kalian bisa belajar merendahkan standar kenyamanan kalian demi suatu pengalaman baru.




Turun di dermaga utama, akan banyak orang-orang pulau yang menawarkan jasa kapal dan homestay dengan harga tembak. Dooorr...!!! Memanfaatkan waktu akhir pekan dan persaingan sudah tentu mereka akan sangat gencar. Tidak terkecuali gue yang pernah hampir dibohongi walaupun realitanya udah pesan dan melakukan DP jauh-jauh hari. Untungnya sudah koordinasi jadi aman..

Fasilitas di Pulau Harapan sama seperti pulau wisata lainnya yang ada di kepulauan seribu. Listrik mengalir 24 jam tanpa genset, ada sinyal jaringan telepon. Bahkan sinyal mobile data-nya lebih kencang di tengah laut. Kamar-kamar homestay dilengkapi dengan AC dan kasur-kasur busa serba lebar. Sangat dianjurkan untuk menyiapkan uang tunai sejak dari Jakarta, dikarenakan disini ada ATM Bank DKI tapi jarang ada uangnya / slow respond karena jaringan internetnya lemot. Ada juga ATM keliling BRI..


Selepas makan siang, wisatawan siap dibawa pergi ke tempat-tempat snorkeling. Bagi mereka yang tidak tahu atau 'cuma ngikut aja' akan dibawa ke spot-spot snorkeling berbarengan dengan wisatawan lainnya. Imbasnya, spot yang didatangi akan cepat kotor atau butek. Akan susah melakukan underwater selfie ala-ala karena substrat dari dasar laut sudah terbawa keatas akibat dari kepakan kaki katak wisatawan.

Ini yang gue hindari dan untungnya diamini sama kang kapal. Gue berkoordinasi melihat pergerakan arah wisatawan atau memutuskan untuk snorkeling di spot baru. Opsi terakhir ini sering gue lakukan karena lebih aman dan minim dikunjungi wisatawan lainnya sehingga puas melihat karang-karang yang rapi dan ikan yang masih banyak! tingkat kesuksesan melakukan underwater selfie ala-ala sangat tinggi sob!

Patut kalian ketahui juga, Pulau Harapan dan sekitarnya masuk dalam zonasi Taman Nasional Kepulauan Seribu. Gak kepikiran yah, Jakarta punya taman nasional? Hanya dalam area zonasi ini yang lautnya masih bagus


Unsur-unsur yang wajib kalian lihat dan alami pada trip Pulau Harapan itu adalah ikan-ikan, karang yang bagus, pantai dan sunset. Tidak perlu parno dengan paradigma pemikiran ikan hiu ganas. Tidak ada ikan hiu di sekitar perairan dangkal Pulau Harapan. Gue malah bersyukur kalo nemu.. Itu tandanya ekosistem di perairan tersebut sangat bagus.

Jika ke-empat unsur diatas terpenuhi, niscaya kehidupan di Instagram dan Path kalian akan penuh dengan pujian wow maupun Love. Tak jarang juga ada yang bakal iri berujung mupeng.. Jangan khawatir jika tidak dapat mengambil foto karang maupun ikan karena gue akan bantu. Dijamin kekinian!

Pada malam hari sempatkan diri untuk main-main di taman dekat dermaga utama Pulau Harapan. Banyak sajian kuliner yang dijual semacam telor kilik rasa cinta (bener lho namanya begitu), cilor, gorengan bumbu kacang terhits, bakaran seafood dan es rumput laut favorit gue karena ini rumput laut asli yang diambil dari laut sekitar pulau dan diolah oleh masyarakat setempat.





Semua pengalaman di akhir pekan ini (Sabtu-Minggu) dapat ditebus dengan harga Rp365.000,- per orangnya (Maksimal untuk 20 orang). Sudah termasuk dengan Kapal Kaliadem - Harapan PP, kapal snorkeling, retribusi pulau, makan 3x (tidak termasuk makan siang di hari Minggu), homestay AC, alat snorkeling dan bebas drama dari oknum-oknum orang pulau. Catet! Booking jauh-jauh hari lebih enak dapat akomodasi.

Sebagai tanda keinginan untuk ikut trip, kalian DIWAJIBKAN untuk membayar uang muka (DP) senilai Rp165.000,- per orangnya. DP ini untuk mengamankan biaya tiket kapal PP serta biaya patungan kapal snorkeling dan homestay AC disana. Sisanya dapat dibayarkan di Pelabuhan Kaliadem sebelum berangkat. Misalnya sudah membayar DP tapi kalian berhalangan berangkat, DP tidak dapat dikembalikan. Kok begitu? Karena jika dikembalikan, akan dibebankan ke orang-orang lainnya yang sudah tentu ga mau nambah biaya apa-apa lagi. Solusinya adalah mencari penggantinya.. Jadi si pengganti ini yang membayarkan DP ke kalian.

Alat snorkeling merupakan opsi bebas karena pada umumnya sudah mulai banyak yang punya. Jadi jika membawa sendiri, kurangi saja Rp35.000,- dari biaya trip alias cukup bayar Rp330.000,- saja.

Nah.. Seandainya kalian butuh info tentang Pulau Harapan atau mau ikutan gue ngetrip ke Pulau Harapan, silahkan disimpan salah satu kontak gue dibawah ini;

Email:  a.rezawandi@gmail.com 
DM ke IG / Twitter : @rezawandi 

Bertanya via Whatsapp klik aja!



Yang hobi nenda, bisa coba juga. Silahkan klik disini kisahnya. Tetap hemat!






..Salam Bahari..


Semalam Menginap Di Rumah Keramba Ikan


Pernah terpikirkan gak, untuk mencoba nginep di rumah keramba apung seperti ini? Gue sih kepikiran.. Selama menjelajah pulau-pulau di sekitar Pulau Harapan, Kep. Seribu selalu gue ngeliat keramba-keramba ini. Penasaran, mulailah gue menggali informasi tanya sana-sini. Dua tiga kali berkunjung, selalu gue sempatkan mencari informasi. Kemudian dapat lah petunjuk dan sepakat dengan penjaga salah satu keramba yang ada tersebar di sekitar Pulau Harapan.

Gue gak ada bayangan sama sekali seperti apa bentuk dan fasilitas yang ada di rumah keramba ikan. Gue kumpulin deh teman-teman yang mau mencoba nginep disini dengan modal sotoy. Gak tau apa-apa bro! Tapi jadi jalan lah kita ber-12 orang menempuh 3 jam pejalanan laut dari Kaliadem, Muara Angke.

A post shared by Reza Wandi (@rezawandi) on

Lokasi keramba ternyata tidak jauh dari dermaga utama Pulau Harapan. Yaa kira-kira sekitar 10 menitan lah udah sampai.. Pertama kali menginjakkan kaki, kesannya berdebu usang. Iya, keramba yang gue tempatin ternyata sudah lebih dari 6 bulan tidak beroperasi karena katanya ikannya pada gampang kena penyakit dan mati. Dan tidak hanya ternak ikan, dulunya ada resto di keramba ini. Biaya operasional lebih besar dari pemasukan, ditambah ikan pada mati, akhirnya ditutup.

A post shared by Reza Wandi (@rezawandi) on

Fasilitasnya disini ada 3 kamar tidur yang tidak begitu besar tapi cukup nyaman. Ada 2 kamar yang berukuran kecil kira-kira muat 5 orang doang dan 1 yang besar muat sekitar 8 orang kalo mau berpepes-pepes tumpuk-tumpuk. Heheheee.. Dilengkapi pula dengan dapur dan kamar mandi. Yang jadi permasalahan adalah air tawar dan listrik. Air tawar harus minta diisiin dulu sedikitnya 1 gentong besar (ada di kamar mandi) dan listrik di keramba menggunakan genset. Dua hal ini yang bisa bikin biaya tinggi, secara air tawar diangkut dari Pulau Harapan dan harga solar disini lumayan mahal.

Waktu gue nginep, sekitar jam 2 dini hari tiba-tiba hujan turun. Badai coy! Kita yang lagi asik tidur nyenyak di luar bangun panik masuk kamar lanjut tidur. Enaknya, pagi-pagi air tawar berlimpah karena ketampung di gentong. Jangan khawatir kepanasan sob! Angin laut di keramba mengalir tiap saat. Adeeeemm~

A post shared by Reza Wandi (@rezawandi) on

A post shared by Reza Wandi (@rezawandi) on

Kegiatan utama yang bisa dikerjakan disini adalah leyeh-leyeh! Kalo mau mancing juga bisa.. Kedalaman air di ujung keramba itu 10 meter lho. Modal pancing gulung dengan potongan cumi bisa dapet ikan kerapu, ikan baronang dan berbagai jenis ikan pasir. Kalo mau snorkeling juga boleh tinggal nyemplung aja bos!

A post shared by Reza Wandi (@rezawandi) on

Untuk konsumsi disini, gue menyarankan pada teman-teman membawa banyak cemilan dan bawa nesting juga untuk masak air. Yaa walaupun ada kompor gas, piring, sendok garpu dan gelas tapi kita gak tau kehigienisan peralatannya. Makanan utama seperti makan siang dan malam, gue makannya di Pulau Harapan. Hanya sarapan pagi yang minta gue anter ke keramba sekalian jemput pulang.

Trip ini menghabiskan biaya sekitar Rp290.000,- per orang. Belum termasuk peralatan snorkeling karena rata-rata pada bawa semuanya. Video tripnya bisa dilihat dibawah yaa..


..Salam Bahari..




Memandang Wisata Bahari Pahawang

Pertama kali menginjakkan kaki di Pahawang gue langsung betah. Tidak seperti trip ke Krakatau dan Teluk Kiluan, di Pahawang kalian bisa menemukan karang, makhluk laut yang beragam, pantai-pantai berpasir halus dan sunrise yang cantik.


Pulau Pahawang berlokasi di kecamatan Punduh Pidada, kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan. Untuk menuju kesini, para backpack traveller biasanya memulai perjalanan dari Jakarta. Ada 2 lokasi titik kumpul yang sudah jadi hal umum sebelum berangkat yaitu di Semanggi / Komdak dan Slipi Jaya. Dari titik kumpul, para backpack traveller ini naik bis jurusan Merak dengan biaya kisaran Rp28.000,- s.d. Rp35.000,-. Kok kisaran? Yaa karena ada oknum-oknum bus yang suka tembak harga. Jadi kadang terlihat debat-debat tarif diatas bis antar kenek dan penumpang.

Bagi yang naik bus, biasanya mereka yang menggunakan jasa trip operator dengan titik kumpul Pelabuhan Merak. Trip operator yang mempunyai pelayanan lebih, kadang menyiapkan shuttle bus / mini bus dengan titik berangkat di Plaza Semanggi. Menggunakan bus perjalanan sedikit lama ketimbang naik shuttle karena bus akan singgah di Serang dan Cilegon mengambil atau menurunkan penumpang. Durasi di jalan menggunakan bus paling lama 4 jam.

Gue pernah naik mobil ke Pelabuhan Merak. Menggunakan mobil 7 seater, gue maksimalin penumpangnya 5 orang aja karena bagasi akan dipakai untuk tas dan peralatan snorkeling serta oleh-oleh nanti pulangnya. Gue juga yang nyetir pergi maupun pulang.. Jika nekat, boleh juga isi 7 penumpang, asal siap bertoleransi dengan ketidaknyamanan selama beberapa jam. Naik mobil menghabiskan biaya kira-kira Rp350.000,- PP. Hitungan sudah termasuk bahan bakar, tol dan parkir di Pelabuhan Merak. Kalian bisa patungan..


Perjalanan menuju Pulau Pahawang akan dimulai dengan berlabuh ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Harga tiket ferry sekali menyeberang adalah Rp15.000,- per orang (naik harga per 15 Mei 2017). Di dalam ferry, ada fasilitas eksekutif yaitu ruangan ber-AC dan bermatras untuk tiduran. Kadang-kadang juga hanya kursi tipe pilot seat. Tergantung kapal ferry-nya jadi untung-untungan. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Kadang jika arus kencang / ombak besar atau kena antri merapat di pelabuhan bisa 3 jam durasi perjalanannya. Yaa sebaiknya tidur aja..


Sampai di Pelabuhan Bakauheni, perjalanan dilanjutkan dengan mobil sewaan yang sudah menunggu di parkiran. Mobil-mobilnya berupa Toyota Avanza / Innova, Daihatsu Xenia atau Suzuki APV. Mobil ini melaju salip kanan kiri menempuh perjalanan kurang lebih 110 Km dengan durasi 3 jam menuju Dermaga Ketapang. Disinilah tempat kapal-kapal yang dapat disewa untuk menjelajah di sekitar Teluk Ratai dan perairan Pulau Pahawang. Di dermaga Ketapang ini banyak warung-warung makan dan kamar mandi umum. Silahkan ganti baju basah dan sewa peralatan snorkeling bagi yang belum punya alatnya.

Untuk menjelajah, gue punya rute tersendiri demi menghindari wisatawan-wisatawan lainnya. Dan gue juga suka mengkomunikasikan spot-spot baru untuk snorkeling ke motoris kapal berbekal citra satelit Google Maps. Jika tidak dikomunikasikan, akan berbarengan dengan wisatawan lainnya. Kemungkinan rame, gak enak buat foto-foto.


Untuk membuka trip ke Pulau Pahawang, biasanya gue sambangin Pulau Maitem dulu. Di pulau ini ada menara suar yang punya pemandangan keren abis! Sebenarnya menara ini tidak pantas dinaiki karena terlihat ada beberapa tali pengaman sling baja sudah putus dimakan karat. Ada papan peringatannya juga.. Jadi, naik disini resiko tanggung masing-masing. Gue tidak menganjurkan juga untuk naik beramai-ramai dengan alasan keamanan.

Selepas dari sini, gue pun snorkeling. Tempat snorkeling tidak seperti pada umumnya, jauh dari keramaian wisatawan dan masih terjaga karangnya bos! Airnya juga bersih biru hijau toska.. Lokasinya di sebelah mana, gue gak mau bilang. Ini lokasi rahasia gue.. Kalo banyak yang datang kesini bisa hancur lagi karang-karangnya seperti di Sarang Nemo. Terdapat 2 lokasi tersembunyi berupa atol yang tidak terlihat di permukaan air. Harus disamperin baru keliatan atolnya.

Penghuni atol kebanyakan anak-anak ikan, beberapa jenis kerapu yang ukurannya setelapak tangan kalian, kima (kerang raksasa) dan pada bagian pasirnya banyak kerang kampak maupun kedong-kedong. Buat bakaran enak tuh!

Karena rute gue udah beda, ketika gue balik ke rute wisatawan pada umumnya spot snorkeling sudah sepi kembali. Menjelang siang gue minta motoris kapal menuju ke Pulau Kelagian Kecil untuk beristirahat makan siang dan santai-santai dulu. Di Pulau Kelagian banyak warung-warung kecil yang menjajakan cemilan gorengan, berbagai jenis minuman sachet dan yang paling nikmat seantero nusantara, Indomie telor pake potongan cabe ditemani teh manis hangat~

Makan selesai puas bersantai-santai lanjut snorkeling di sekitar Pulau Kelagian Kecil. Pulau ini dominan karang juga di pinggir-pinggirnya terutama di bagian selatan, sisi yang karangnya masih rapi. Belum banyak dihajar oleh jangkar-jangkar kapal wisatawan.



Menjelang sore hari Kelagian kecil, gue mengarahkan kapal ke homestay. Posisi Pulau Pahawang tidak strategis untuk melihat matahari terbenam jadi gue lewati saja momennya. Letak homestay banyak tersebar di dusun perkampungan Pulau Pahawang Besar. Gue sendiri pernah nginep di homestay dekat dermaga utama Pahawang Besar, dusun Jlarangan, dusun Cukuh Nyai dan dusun Suak Buah. Yang paling pewe tempatnya itu di Suak Buah, hanya saja ga bisa lihat matahari terbit karena tertutup bukit. Homestay disini rata-rata memakai genset, jadi listrik baru menyala pukul 17.00 - 06.00 WIB.




Bangun pagi-pagi sekitar jam 5 subuh jika mau menikmati udara sejuk. Beneran segar untuk dihirup sob! Bagi yang mau hunting sunrise pake timelapse, mulai pasang kameramu jam 05.30 jika mau dapat momennya. Sembari ngopi juga asik..

Di hari minggu, setelah sarapan segera packing dan ganti baju basah karena akan snorkeling lagi. Mumpung pagi-pagi airnya tenang tidak berarus. Lokasi snorkeling berada di Sarang Nemo. Bagi kalian yang nginep di Jlarangan, lokasi ini sangat dekat. Beruntung jika keadaan air lagi surut, karena akan mudah menyelam sampai ke dasar ketimbang jika sedang pasang.




Momen lumba-lumba di Pahawang jarang terjadi, tapi jika ada bisa sekalian dinikmati. Minta saja ke motoris kapal untuk mendekati lumba-lumbanya.


 Berhubung perjalan pulang ke Jakarta masih panjang, dari Sarang Nemo gue kembali ke dermaga Ketapang. Disini bisa mandi bilas dan makan siang sebelum berangkat ke pelabuhan Bakauheni. Memang sebaiknya jangan sampai kesorean baru berangkat, karena bisa saja sampai di Merak sudah menjelang tengah malam. Itu pun belum lagi perjalanan berjam-jam dari Merak ke Jakarta. Pengalaman, gue pernah sampai subuh di Jakarta sebabnya baru naik kapal di Bakauheni sekitar jam 19.00 WIB. Untung waktu itu ambil cuti di hari Seninnya.. Buat yang naik mobil pribadi atau shuttle bus / minibus sih aman karena tol dari Merak ke Jakarta cenderung sepi. Dibawa ngebut 2,5 jam bisa sampai di tol dalam kota. Pikirkan juga transportasi dari drop point ke rumah masing-masing..

Jika berangkat siang jam 12.00 bisa sampai di Bakauheni sekitar jam 15.00 WIB. Jangan khawatir soal oleh-oleh karena supir mobil sewaan akan singgah sebentar di toko oleh-oleh. Minimal kripik pisang dibungkus lah yaa.. Asiknya berangkat sore dari Pelabuhan Bakauheni itu kita bisa lihat pemandangan pulau-pulau yang ada di sekitar Bakauheni.



Sebenarnya masih banyak hal-hal menarik lainnya selama di Pahawang. Spot-spot snorkeling dan pantainya tidak hanya yang gue sebutin diatas. Jika mau ke Pahawang, pastikan beramai-ramai agar murah patungannya atau cari open trip. 

Mau lihat lokasi-lokasi seputar Pahawang lainnya? 
Klik DISINI untuk pulau, klik DISINI untuk pantai.

..Salam Bahari..









Sebarkan! Ini Dia Kalender Libur 2017


Pemerintah menyepakati draft Surat Keputusan Bersama (SKB) Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2017. Pembahasan dan penandatanganan SKB tersebut difasilitasi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta. 

Turut hadir dalam acara ini adalah Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi. 

Pengaturan Cuti Bersama dan Hari Libur Nasional telah diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 dan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 1976 dan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1983. 

Cuti/cuti tahunan merupakan hak bagi pegawai yang harus dihargai dan dihormati. Untuk kepentingan bersama, perlu diatur oleh Pemerintah, dan jumlah hari Cuti Bersama adalah mengurangi jumlah hari cuti tahunan. 

Tujuan dilakukan pengaturan Cuti Bersama dan Hari Libur Nasional adalah: 1) peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pemanfaatan hari kerja, hari libur, dan Cuti Bersama sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja, dan 2) peningkatan sektor pariwisata dalam negeri yang mempunyai dampak peningkatan ekonomi. 

Jumlah Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2017 yaitu sebanyak 19 hari, dengan rincian Hari Libur Nasional sebanyak 15 hari dan cuti bersama sebanyak 4 hari untuk Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah dan Hari Raya Natal. 


Download versi cetak (Ukuran A4) : https://goo.gl/tB7eBJ

Diatas adalah kalender dengan tanggal-tanggal yang enak buat ambil cuti bagi orang kantoran. Udah gue tandain dengan warna hijau untuk cuti maksimal 2-3 hari dan orange untuk yang mau ambil block leave. 

Tanda awan dan matahari adalah cuaca dominan di bulan itu. Ada baiknya juga sebelum ngetrip kita ngeliat prakiraan cuaca pada tanggal yang telah kita tentukan. Jangan sampai hujan badai menghalangi perjalanan kalian.

See You When I SEA You!








Jelajah Makassar Hari Pertama - Taman Batu Terbesar Di Dunia Ada Disini


Awalnya udah bahagia aja nyusun rencana ke Taman Nasional Taka Bonerate. Ehh malah dapetnya Selayar dan Tanjung Bira juga. Maklum.. Menyiasati liburan panjang di awal bulan Mei 2016. Gue agak males ke tempat komersil saat libur panjang. You know-lah ramenya kayak apa. Maka jadilah perjalanan ini 9 hari pake cuti 3 hari. Maklum.. Orang kantoran. Hehehee..



Perjalanan dimulai dari kantor gue. Iya.. Kantor. Flight yang gue ambil ada di pukul 00.05 WIB pada hari Sabtu. Berarti hari Jumat gue udah harus standby dengan peralatan tempur selama disana. Hasilnya semua barang bawaan gue ikut ke kantor.

Jam 1 dini hari flight menuju Makassar mendarat sekitar pukul 03.30 WITA di Sultan Hasanuddin Airport. Masih terlalu pagi untuk menuju ke destinasi pertama. Mata ini masih butuh tidur, tuan.. 

Beberapa teman-teman udah ada yang datang dihari Jumat jadi jemput dulu nih. Personil lengkap, saatnya cari sarapan! Pembukanya makanan khas Coto Makassar..

Bayar Rp15.000 semangkok, ketupatnya bebas ambil berapapun GRATIS! 
Destinasi pertama adalah Taman Batu Rammang-rammang di Bontolempangan, Kabupaten Maros. Rammang-rammang ini sebenarnya gugusan batu karst (kapur) terbesar ketiga setelah setelah Tsingy di Madagaskar dan Shilin di Tiongkok. Rammang berarti awan / kabut dalam bahasa Makassar. Tempat ini diberi nama demikian karena menurut penduduk setempat, kalo pagi-pagi atau sehabis hujan suka turun kabut.

Untuk menuju ke lokasi utama di Kampung Berua, kita menyusuri Sungai Pute menggunakan katinting kurang lebih 30 menit. Pemandangan sekelilingnya hijau dipenuhi pohon nipah dan bakau. Sekali dua kali masuk melewati terowongan batu. Welcome to Amazone. Hehee..




Kampung Berua ini desa dikelilingi oleh pegunungan Karst. Keadaannya yang cukup sunyi dari polusi suara bisa dijadiin tempat menenangkan diri. Nginep aja di rumah warga.. Gak kebayang deh pemandangannya sewaktu hujan. Memandangi kabut yang ditemani segelas kopi dan semangkuk mie instant panas-panas sambil sarungan. Beuh!

Destinasi kedua adalah destinasi yang disarankan supir kami, Leang Lonrong. Yang tadinya mau ke Bantimurung dengan alasan 'komersil' dan akan rame karena hari Sabtu, kita meng-amin-i. Dari Rammang-rammang langsung menuju Leang Lonrong dengan waktu tempuh kurang lebih sejam.


Leang Lonrong letaknya di kabupaten Pangkep, desa Panaikang kurang lebih 5 Km dengan panorama hijau dari jalan poros. Tempat ini sebenarnya adalah salah satu sumber mata air yang keluar dari goa kapur disela-sela pegunungan Lonrong. Tarif masuknya Rp20.000 / orang boleh mandi sepuasnya.




Fasilitasnya super minim sob! Toilet juga seadanya.. Gue ganti baju dibalik bebatuan semak-semak. Pemandian Leang Lonrong ini minim perhatian, gak keurus dan belum cukup diketahui masyarakat. Padahal tempatnya asri, airnya dingin sejuk untuk relaksasi. Gue aja yang kurang tidur berendam disini berasa segar sob! Kabsubdin Disbudpar Kabupaten Pangkep-nya mana nih? Bisa jadi sumber PAD, lho..

Jangan lupa kalo ke Leang Lonrong bawa cemilan, air minum dan senter yang super terang yaa.. Ada air terjun mini di dalam goanya.


Puas berendam geulis di Leang Lonrong, makan dulu di warung lokal kota Maros. Kudu makan yang banyak! Perjalanan masih jauh.. Sekitar 6-7 jam menuju Tanjung Bira, Bulukumba. Masuk mobil sejam kemudian sunyi senyap. Pada tidur semua....



Lanjut? Klik..






Mau Nenda di Pulau Tak Berpenghuni? Cobain Pulau Opak Besar!

Akhirnya nendaan lagi setelah kemping di Pulau Air. Pulau Opak Besar letaknya ada di Kepulauan Seribu, bertetangga langsung dengan Pulau Harapan / Pulau Kelapa. Pulau ini sama sekali gak ada penghuninya. Cuma monyet yang bakal datang menyambut kedatangan kalian saat menepi. Siap-siap barangnya dijarah. Hhehehehee~ #IniSerius


Untuk menuju kesini, dimulai dari Pelabuhan Kaliadem menuju Pulau Harapan. Ada beberapa 'kapal ojek' yang siap mengantarkan seperti kapal Miles 1, Miles 2, Garuda Express, Dolphin, sebutkan saja nama kapalnya di loket tiket. Harga tiket ke Pulau Harapan senilai Rp55.000 + uang retribusi (yang dulunya gak ada) Dishub Rp2.000 yang kalo ditotalkan jadi Rp57.000,- sekali jalan. Dari Kaliadem menuju Pulau Harapan ditempuh dengan durasi 3 jam perjalanan. Tahan mulesmu, tahan ngantukmu!  Datang lebih pagi ke Kaliadem biar dapet posisi enak di atas kapal.

Teman-teman kemping kali ini
Seandainya KM. Sabuk Nusantara gak pake ngetem, gue pasti naik.
Tiba di Pulau Harapan sekitar pukul 11.00 WIB menjelang siang. Neraka bocor halus! Panas sob! Anak-anak manja ibukota yang terbiasa dengan AC banyak tergeletak tak berdaya bak ikan segar di permukaan tanah. Gelepar-gelepar. Yaa kali.. 

Kumpul di dekat taman, kapal jelajah udah sandar cantik seperti gorengan bakwan di tepi wajan. Udah siap aja.. Setelah naro barang-barang, makan siang dulu isi tenaga biar kuat menerjang laut, membelah ombak dan menyelam hingga ke dasar. Gak lupa ganti baju basah yang modis untuk snorkeling buat gegayaan selfie dibawah laut.

Beres makan dan ganti baju, saatnya snorkeling! Karena nenda, snorkeling hanya 2 spot aja di Pulau Kayuangin Bira dan Gusung Opak sebelah timur demi mengejar waktu biar gak kemalaman masang tenda dan siapin api buat masak.






Sekitar jam 16.00 WIB, dengan berat hati meninggalkan laut untuk merapat ke Pulau Opak sebelah barat untuk mendirikan tenda. Bagian ini mempunyai daratan pasir yang cukup luas untuk dijadikan camping ground. Enak juga kan tidurnya diatas pasir, gak sekeras tidur di atas tanah. Apalagi dibawah tanah. Itu meninggal namanya~




Bangun tenda agak direpotkan oleh seekor monyet yang mulai sweeping barang-barang bawaan karena bodat satu ini dengan mental penjajah berhasil menjarah beberapa logistik makanan. Untung gak habis diambil semua.. Kalo habis bisa pesta barbekyu bodat.

Malam hari dihabiskan dengan makan bersama, curhat tentang percintaan remaja masa kini dan kisah cinta pribadi-pribadi yang hatinya tersesat tanpa arah. Sementara gue sibuk nyalain api unggun dari kayu-kayu setengah basah yang ada di sekitar tenda.

Gak ada yang mandi bilas hari itu karena emang cuma bawa air terbatas untuk makan minum aja. Pulaunya aja gak berpenghuni jadi jangan harap ada-sumur-di-ladang-boleh-kita-numpang-mandi. Monyet aja nyemplung ke laut gak bilas.

Matahari terbenam dilihat dari Pulau Opak

Pagi hari udaranya dingin sob! Matahari belum nongol ketutup awan. Mata yang udah kebuka dengan mudahnya kembali tertutup terbawa mimpi. Sedikit memaksakan untuk bangun dan segera menyalakan api unggun untuk menghangatkan diri. Biar melek juga..

Setelah sarapan, sempatkan diri untuk berkeliling sedikit ke arah timur pulau. Menelusuri pasir putih sambil melihat ikan-ikan wara wiri nyari makan. Pulau Opak punya karang di bagian yang dangkal dan masih terjaga karena jarang dikunjungi orang-orang.




Sekitar pukul 09.00 WIB mulai beres-beres lipat tenda dan ngumpulin sampah-sampah bekas masak untuk dibawa kembali ke Pulau Harapan. Sayang sob, pulau tak berpenghuni gak ada pasukan orange / PPSU buat bersihin. 





Tiba kembali di Pulau Harapan, segera beli tiket lalu naik ke kapal yang masih kosong. Wuenaaakk selonjoran! Sementara selonjoran, temen-temen lainnya yang gak tahan sama bau badan sendiri inisiatif untuk bilas di rumah warga. Gak lupa juga beli makan siang..


Keep Traveling!